Oleh: Arif Gunawan | Juni 20, 2008

Keawetan Kayu

Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap faktor-faktor perusak yang datang dari luar kayu itu sendiri. Secara alami kayu mempunyai keawetan tersendiri, dan berbeda untuk tiap jenis kayu. Keawetan kayu biasanya ditentukan oleh adanya zat ekstraktif yang terkandung di dalam kayu tersebut.

Tabel Komposisi Kimia Kayu
Komponen Kimia Kayu daun lebar (%) Kayu daun jarum (%)
Selulose 40 – 45 41 – 44
Lignin 18 – 33 28 – 32
Pentosan 21 – 24 8 – 13
Zat ekstraktif 1 – 12 2,03
Abu 0,22 – 6 0,89
Oleh: Arif Gunawan | Juni 20, 2008

Faktor Penyebab Kerusakan BCB dari Kayu

Keawetan kayu dalam ketahanan rendah atau tinggi, tergantung pada kondisi dalam pemakaian umur yang diharapkan sesuai dengan hitungan kelasnya. Dalam hal ini perlu diketahui apakah faktor penyebabnya. Adapun faktor penyebabnya digolongkan menjadi:

a. Penyebab non makluk hidup.

Faktor non makhluk hidup ialah pengaruh yang disebabkan oleh unsur pengaruh alam dan keadaan alam itu sendiri. Penyebab non makluk hidup terdiri dari:

- Faktor fisik, ialah keadaan atau sifat alam yang mampu merusak komponen kayu sehingga umur pakainya menjadi pendek. Yang termasuk faktor fisik antara lain: suhu dan kelembaban udara, panas matahari, api, udara dan air. Semua yang termasuk faktor fisik itu mempercepat kerusakan kayu bila terjadi penyimpangan. Misalnya bila kayu tersebut terus-menerus kena panas maka kayu akan cepat rusak.

- Faktor mekanik, terdiri atas proses kerja alam atau akibat tindakan manusia. Yang termasuk faktor mekanik antara lain: pukulan, gesekan, tarikan, tekanan dan lain sebagainya. Faktor mekanik berhubungan erat sekali dengan tujuan pemakaian.

- Faktor kimia, juga mempunyai pengaruh besar terhadap umur pakai kayu. Faktor ini bekerja mempengaruhi unsur kimia yang membentuk komponen seperti selulosa, lignin dan hemiselulosa. Unsur kimia perusak kayu antara lain: pengaruh garam, pengaruh asam dan basa.

b. Penyebab makluk hidup.

Makhluk hidup perusak kayu beraneka macam, kebanyakan serangan perusak ini sangat cepat menurunkan nilai keawetan dan umur pakai kayu. Ada jenis yang langsung memakan komponen kayu tersebut, ada juga yang melapukkan kayu, mengubah susunan kimia kayu, tetapi ada pula yang hanya merusak kayu dengan mengubah warna. Jenis-jenis serangga sering melubangi kayu untuk memakan selulosa dan selanjutnya menjadikan tempat bersarang. Adapun jenis-jenis perusak kayu makhluk hidup antara lain:

- Jenis jamur (cendawan), ialah jenis tumbuhan satu sel, yang berkembang biak dengan spora. Hidupnya sebagai parasit terhadap makhluk lain. Umumnya hidup sangat subur di daerah lembab. Jamur terkenal sebagai perusak kayu basah. Hanya ada beberapa jenis yang menyerang kayu kering. Sifat utama kerusakan oleh jamur ialah pelapukan dan pembusukan kayu, tapi ada juga yang merubah warna kayu misalnya jamur biru (blue stain). Macam-macam jamur antara lain: jamur pelapuk kayu, jamur pelunak kayu, jamur pewarna kayu .

- Jenis serangga, merupakan perusak kayu yang sangat hebat, terutama di daerah tropik. Serangga tersebut makan dan tinggal di dalam kayu, antara lain: rayap dan serangga bubuk kayu (Dumanauw, 1982, hal 63).

Jenis binatang laut, terkenal dengan nama Marine borer. Kayu yang dipasang di air asin akan mengalami kerusakan lebih hebat daripada kayu yang dipasang di tempat lain. Hampir semua kayu mudah diserang oleh binatang laut. Akan tetapi ada pula beberapa jenis kayu yang memiliki faktor ketahanan, karena adanya zat ekstraktif yang merupakan racun bagi binatang laut, antara lain kayu lara, kayu ulin, kayu giam, dan lain-lain. Setelah diketahui bahwa faktor utama perusak kayu adalah makhluk hidup tertentu, jelas bahwa kayu dapat dilindungi dengan cara mengawetkan. Nilai pakai kayu itu sendiri akan lebih awet dan tahan terhadap perusak-perusak yang telah dijelaskan di muka. Caranya ialah dengan memasukkan bahan-bahan pengawet yang beracun ke dalam kayu. Pengawetan kayu secara umum berarti: usaha manusia untuk menaikkan keawetan kayu dan umur pakainya, sehingga keperluan akan kayu lebih terpenuhi. Umur penggunaan kayu yang pendek dapat diperpanjang sesuai dengan kebutuhan. Olek karena itu pengawetan kayu selalu ditujukan pada kayu yang berkeawetan rendah. Jenis-jenis kayu inilah yang perlu ditingkatkan daya tahannya dalam pemakaian. Pengawetan kayu dari segi ilmiah teknis juga merupakan usaha untuk memperbesar sifat keawetan kayu, sehingga penggunaan kayu dapat lebih lama. Tapi yang terpenting, pengawetan kayu berarti: memasukkan bahan racun ke dalam kayu, sebagai pelindung terhadap makhluk-makhluk perusak kayu yang datang dari luar, yaitu jenis-jenis serangga, jamur dan binatang laut. Prinsip memasukkan bahan pengawet (wood preservative) sampai saat ini menunjukkan hasil yang baik. Semua industri pengawetan kayu umumnya menggunakan prinsip ini, hanya macam bahan pengawet berikut cara atau proses memasukkannya yang berbeda

Oleh: Arif Gunawan | Juni 19, 2008

Bahan Pengawet (untuk kayu)

Bahan pengawet kayu adalah suatu senyawa (bahan) kimia, baik berupa bahan tunggal maupun campuran dua atau lebih bahan, yang dapat menyebabkan kayu yang digunakan secara benar akan mempunyai ketahanan terhadap serangan cendawan, serangga, dan perusak-perusak kayu lainnya.

Kemanjuran (evektivitas) bahan pengawet tergantung pada toksisitas (daya racun = daya bunuh) terhadap organisme perusak kayu atau organisme yang berlindung di dalam kayu. Semakin tinggi kemampuan meracuni organisme perusak kayu, semakin manjur dan semakin efektif pula bahan pengawet itu digunakan untuk mengawetkan kayu.

Disamping bersifat racun bagi organisme perusak kayu, bahan pengawet yang layak digunakan dalam proses pengawetan kayu juga harus memenuhi persyaratan berikut:

- Bahan pengawet harus mudah meresap pada kayu menuju ke bagian yang cukup dalam.

- Bahan pengawet harus dapat digunakan secara mudah dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit atau membahayakan kesehatan.

- Bahan pengawet tidak mudah menguap dan tidak mudah terurai menjadi unsur-unsur yang tidak beracun, namun harus mampu berada secara permanen di dalam kayu.

- Harganya relatif murah serta mudah didapatkan di pasaran.

- Bahan pengawet tidak mengkorosikan (mengauskan) logam (sebagai contoh: paku) yang bersentuhan (digunakan bersama) dengan kayu yang diawetkan.

- Bahan pengawet tidak mengurangi sifat baik (misal: keindahan dan kekuatan) yang melekat pada kayu.

- Bahan pengawet sebaiknya tidak berwarna dan berbau.

- Bahan pengawet tidak mudah terbakar.

- Bahan pengawet tidak mengembangkan (memperbesar ukuran panjang, lebar, tebal) dimensi kayu.

Oleh karena adanya banyak persyaratan tersebut, bila akan memilih bahan pengawet untuk kayu, kita harus berhati-hati. Kita harus memperhatikan bahan pengawet itu dalam hal toksisitas, keamanan terhadap kesehatan, kebakaran ketahanannya di dalam kayu, harga, korositas, pengkayaan sifat kayu, dan warna.

Bahan pengawet yang memenuhi syarat pemakaian tersebut cukup mudah dijumpai di toko-toko bahan kimia. Bahan pengawet demikian tersedia dalam berbagai ragam. Dari segi jenis, sifat fisiko kimia, dan bentuknya, kita dapat membedakan bahan pengawet yang satu terhadap bahan pengawet yang lain. Ada bahan pengawet yang berupa cairan, padat, serbuk dan emulsi ini perlu dilarutkan dalam pelarut yang sesuai.

Begitu banyaknya bahan pengawet ini, sehingga ada beberapa pakar atau lembaga yang berusaha mengelompokkan bahan-bahan pengawet ini. Untuk mempermudah pemanfaatan bahan pengawet kayu ini, kita perlu mencari cara pengelompokan tertentu, yaitu pengelompokan yang didasarkan pada cara pemakaian bahan pengawet. Berdasarkan cara pemakaian ini, bahan pengawet kayu digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu bahan pengawet kayu berupa minyak, bahan pengawet kayu yang dilarutkan dalam minyak, bahan pengawet kayu yang dilarutkan dalam air.

Dalam penelitian ini kita menggunakan bahan pengawet tradisional yang dilarutkan dalam air. Bahan pengawet yang dilarutkan dalam air mempunyai banyak kelebihan. Pertama karena bahan pelarutnya berupa air, larutan bahan pengawet ini relatif lebih murah dibanding dengan bahan pengawet lain. Kedua, bahan pengawet ini bebas dari bahaya kebakaran dan peledakan selama proses pengawetan. Ketiga, bahan pengawet ini mudah meresap ke dalam kayu. Keempat, bahan pengawet ini mudah diperoleh.

Meskipun demikian, bahan pengawet larut air ini juga mengandung kelemahan. Pertama, karena sifat higrorkopis dari kayu, kayu yang diawetkan akan memuai ukuran dimensinya. Kedua, air sebagai bahan pelarut akan membasahi kayu sehingga untuk penggunaan tertentu kayu harus dikeringkan lagi. Proses pengeringan ini akan menyusutkan kembali ukuran kayu. Ketiga, bahan pengawet ini tidak memberi perlindungan kayu terhadap pelapukan dan keausan mekanis. Keempat, bahan pengawet ini lebih mudah luntur, terurai dan semakin lama berkurang kadarnya pada kayu yang diawetkan apabila kayu ini digunakan dalam kondisi yang berhubungan dengan air atau tanah yang basah.

Bahan pengawet ini lebih sesuai digunakan untuk mengawetkan kayu yang akan digunakan di tempat kering, misal kayu bangunan, terutama yang menekankan aspek kebersihan dan tidak berbau.

(sumber Studi Pengawetan Kayu Secara Tradisional)

Oleh: Arif Gunawan | Mei 19, 2008

Konservasi Peninggalan Bawah Air

Konservasi atau penanganan benda cagar budaya bawah air sangat berbeda dengan pananganan dan konservasi benda cagar budaya yang ada di darat. Hal tersebut dikarenakan kondisi lingkungan yang berbeda. Selain itu bcb yang ada di laut juga akan lain penanganannya dengan bcb yang ada di sungai maupun rawa.

Dalam melakukan penanganan bcb bawah air khususnya dalam melakukan pengangkatan bcb dari dasar laut harus dilakukan secara cermat dan hati-hati serta adanya persiapan yang matang agar tindakan yang dilakukan tidak membahayakan bcb itu sendiri.

Yang harus diperhatikan disini adalah kondisi antara dasar lautv tempat bcb ditemukan dengan permukaan pasti berbeda. permasalahan yang dihadapi adalah tekanan udara, perbedaan tekanan udara dapat menyebabkan bcb jadi rusak.

tahap selanjutnya adalah pengurangan kadar garam. karena bcb bawah air berada di dasar laut dalam jangka waktu yang lama tentu akan mengandung kadar garam yang tinggi. pengurangan kadar garam dilakukan secara bertahap dan memerlukan prosos waktu yang lama sampai kondisi bcb tersebut mendekati stabil.

Tahap berikutnya adalah menghilangkan kerak-kerak maupun karang yang menenpel pada permukaan bcb. tahap ini juga memerlukan penanganan yang cermat karena apabila tidak hati2 justru akan menghilangkan patina dari benda tersebut.

Oleh: Arif Gunawan | Mei 14, 2008

Monitoring

Untuk menjaga kelestarian Candi Borobudur dari kerusakan material dan struktur bangunan diperlukan suatu usaha atau kegiatan monitoring. Monitoring yang dilakukan antara lain monitoring lingkungan, monitoring geohidrologi, monitoring keterawatan batu candi, monitoring kebocoran, monitoring stabilitas struktur dan bukit, monitoring pengamanan dan pemanfaatan.
Hasil monitoring tersebut dievaluasi sehingga dapat diketahui dampak-dampak negatif yang timbul dari pemanfaatan candi Borobudur sebagai obyek wisata. dari hasil monitoring pula didapat data-data untuk melakukan tindakan yang dapat menekan adanya kerusakan baik material maupun struktur dari bangunan candi Borobudur.

Oleh: Arif Gunawan | Mei 6, 2008

Automatic Weather System

AWS (Automatic Weather System) merupakan alat pencatat cuaca yang bekerja secara otomatis. Rangkaian alat ini terdiri dari sensor-sensor, data logger, led display, komputer. Sensor yang terdapat di dalam AWS adalah wind speed sensor, wind direction sensor, temperature sensor, humydity sensor, solar radiation, net radiation, pressure sensor, rainfall.

Data logger bertugas untuk mengumpulkan data yang dikirimkan dari masing-masing sensor. Kemudian data dikirimkan ke led display dan ke komputer.

Kelebihan alat ini dapat bekerja secara otomatis dengan hasil yang akurat bila dibandingkan dengan pencatatan data klimatologi secara manual. tetapi alat ini mempunyai kelemahan, yaitu mudah mengalami kerusakan.

Oleh: Arif Gunawan | Mei 5, 2008

Hubungan Klimatologi Dengan Konservasi

Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari atau menyelidiki tentang iklim. Yang dimaksud dengan iklim adalah keadaan cuaca pada suatu daerah tertentu pada jangka waktu yang panjang. Sedangkan cuaca adalah keadaan atmosfer pada suatu waktu.

Unsur-unsur iklim

· Suhu

· Kelembapan

· Penyinaran matahari

· Penguapan

· Hujan

· Angin

· Tekanan udara

Klimatologi dibagi menjadi dua yaitu makro klimatologi dan mikroklimatologi. Makro klimatologi adalah klimatologi yang mempelajari sifat-sifat atmosfer pada daerah yang luas. Sedangkan mikro klimatologi adalah klimatologi yang mempelajari ilkim pada daerah yang sempit.

Peranan Klimatologi dalam konservasi

Klimatologi mempunyai peranan yang penting dalam pelaksanaan konservasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor iklim sangat erat hubungannya dengan proses kerusakan dan pelapukan benda cagar budaya.

Hubungan faktor iklimdan kerusakan bcb
FAKTOR IKLIM KERUSAKAN
Suhu udara khemis,mekanis
Kelembapan biologis, mekanis
Penyinaran matahari fisik, mekanis
Penguapan khemis, mekanis
Hujan biologis, khemis, mekanis
Angin biologis, mekanis
Tekanan udara mekanis
Oleh: Arif Gunawan | Mei 2, 2008

Pengelolaan Warisan Budaya Dunia di Indonesia

Pengelolaan warisan budaya dunia di Indonesia sangat penting dilakukan mengingat besarnya kekayaan budaya yang dimiliki. Kekayaan budaya Indonesia tersebut selain yang telah terdaftar sebagai warisan dunia, banyak yang berpotensi untuk diajukan sebagai warisan dunia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana pengelolaan warisan-warisan budaya tersebut. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, maka harus dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar, seperti; apa yang dimaksud dengan Warisan? Dan apa yang disebut Warisan Budaya Dunia dan Warisan Alam Dunia?

Baca Lanjutannya…

Oleh: Arif Gunawan | April 30, 2008

Studi Teknis Arkheologi

Apabila dari hasil studi kelayakan, bangunan tersebut dinyatakan layak atau tidak layak dipugar perlu ditindaklanjuti dengan STA dengan hasil akhir berupa perencanaan pemugaran/ konservasi. (baca mengenai Studi Kelayakan)

Parameter studi yang dilakukan dalam STA hampir sama dengan Studi Kelayakan, namun kualitas dan kuantitas studinya dipertajam. Di samping itu perlu juga dilakukan penelitian-penelitian tambahan lainnya yang terkait dengan upaya konservasi dan pemugaran bangunan cagar budaya, misalnya: studi geohidrologi, geoteknik, pengujian bahan konservasi, dan analisis di laboratorium sampai diperoleh bahan dan metode konservasi yang cocok dan tidak menimbulkan dampak negatif pada benda cagar budaya maupun lingkungannya.

Setelah diperoleh bahan dan metode konservasi/pemugaran yang cocok dan dapat dipertanggungjawabkan maka segera dibuat perencanaan yang dilengkapi dengan schedulle, sarana dan prasarana yang diperlukan, pembebasan tanah bila perlu, serta RAB.

Untuk lebih jelasnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam STA adalah sebagai berikut:

Baca Lanjutannya…

Oleh: Arif Gunawan | April 30, 2008

STUDI KELAYAKAN

Dalam suatu kegiatan pemugaran dan konservasi benda cagar budaya haruslah didahului dengan suatu studi kelayakan dan studi teknis arkheologi. studi kelayakan dimaksudkan untuk mengetahui layak atau tidaknya bangunan atau benda cagar budaya tersebut dilakukan pemugaran maupun konservasi.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori