• twitter

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Anda Pengunjung ke

  • Data Klimatologi, Stasiun Klimatologi Borobudur

    Jumlah Curah Hujan Tahun 2011
    No BULAN CURAH HUJAN
    1 Januari 358,0 mm
    2 Februari 139 mm
    3 Maret 175,55 mm
    4 April 193 mm
    5 Mei 109,0 mm
    6 Juni 0 mm
    7 Juli 7,5 mm
    8 Agustus 0 mm
    9 September
    10 Oktober
    11 November
    12 Desember
  • Jumlah Penguapan Panci Terbuka Tahun 2011
    No Bulan Penguapan
    1 Januari 101,92 mm
    2 Februari 94,31mm
    3 Maret 111,99 mm
    4 April 100,88 mm
    5 Mei 137,28 mm
    6 Juni 118,12 mm
    7 Juli 136,96 mm
    8 Agustus 143,28 mm
    9 September
    10 Oktober
    11 November
    12 Desember
  • Rata-rata Kelembapan Tahun2011
    No Bulan Kelembapan
    1 Januari %
    2 Februari %
    3 Maret 81 %
    4 April 83 %
    5 Mei 81%
    6 Juni 79 %
    7 Juli 75 %
    8 Agustus 74 %
    9 September
    10 Oktober
    11 November
    12 Desember
  • Rata-rata Temperatur Udara (oC) Tahun2011
    No Bulan Temperatur
    1 Januari
    2 Februari
    3 Maret 26,1
    4 April 26,3
    5 Mei 26,5
    6 Juni 25,1
    7 Juli 25,9
    8 Agustus 24,8
    9 September
    10 Oktober
    11 November
    12 Desember
  • Basmi Tikus Kantor
  • Mei 2008
    S S R K J S M
    « Apr   Jun »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Kategori

Pengelolaan Warisan Budaya Dunia di Indonesia

Pengelolaan warisan budaya dunia di Indonesia sangat penting dilakukan mengingat besarnya kekayaan budaya yang dimiliki. Kekayaan budaya Indonesia tersebut selain yang telah terdaftar sebagai warisan dunia, banyak yang berpotensi untuk diajukan sebagai warisan dunia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana pengelolaan warisan-warisan budaya tersebut. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, maka harus dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar, seperti; apa yang dimaksud dengan Warisan? Dan apa yang disebut Warisan Budaya Dunia dan Warisan Alam Dunia?

Warisan sering dijelaskan sebagai peninggalan kita dari masa dahulu, apa yang hidup bersama kita sekarang, dan apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi mendatang untuk belajar dari, mengagumi dan menikmatinya. Warisan Budaya sebagaimana didefinisikan dalam Konvensi Warisan Dunia mencakup:

Monumen; karya arsitektur, karya patung dan lukisan yang monumental, elemen atau struktur yang bersifat arkeologis,prasasti, gua hunian dan kombinasi yang memiliki nilai universal luar biasa dilihat dari sudut pandang sejarah, seni dan sains

Kumpulan bangunan:yaitu kumpulan bangunan yang terhubung atau terpisah yang karena arsitektur, homogenitas atau tempatnya dalam landsekap memiliki nilai universal luar biasa dipandang dari sudut sejarah, seni dan sains

Situs: yaitu lokasi/tempat karya manusia atau karya alam dan manusia dan kawasan yang termasuk situs arkeologis,memiliki nilai universal luar biasa dilihat dari sudut pandang sejarah, estetika, etnologi atau antropologi.

Sedangkan Warisan Alam mencakup :

Ciri-ciri alam yang terdiri dari bentukan fisikal dan biologis atau himpunannya, yang memiliki nilai universal luar biasa dari sudut pandang estetika atau ilmiah

Bentukan geologi dan fisiografi yang diuraikan sebagai habitat species hewan dan tumbuhan langka yang memiliki nilai universal luar biasa dari sudut pandang sains dan pelestarian;

Situs alam atau kawasan yang diuraikan dengan tepat serta memiliki nilai universal luar biasa dari sudut pandang sains, pelestarian atau keindahan alam

Secara lebih luas warisan budaya dan warisan alam tercakup dalam istilah yang disebut Lansekap Budaya (Cultural Landscape). Lansekap budaya merupakan properti budaya dan mewakili “perpaduan antara pekerjaan alam dan manusia” yang merupakan ilustrasi dari evolusi peradaban dan penyebaran manusia dalam pengaruh keterbatasan fisik yang diberikan oleh lingkungan alam disekitarnya serta oleh kekuatan-kekuatan sosial, ekonomi, dan budaya, baik eksternal maupun internal.

Peninggalan budaya dan alam dapat diakui sebagai warisan dunia karena memiliki Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding universal value). Nilai universal luar biasa dimaknai sebagai memiliki nilai nilai dari segi budaya dan/atau alam yang sangat luar biasa (exceptional) sehingga melampaui batas nasional serta memiliki arti penting bagi generasi sekarang maupun yang akan datang bagi seluruh umat manusia.

Saat ini cakupan Warisan Budaya Dunia di Indonesia meliputi :

Bendawi (Tangible)

Kompleks Candi Prambanan 1991 (Prambanan Temple Compound nomor:642 )

Kompleks Candi Borobudur 1991 (Borobudur Temple Compound nomor: 592)

Situs Prasejarah Sangiran 1996 (Sangiran Eary Man Site nomor 593).

Tak Benda (Intangible)

Wayang Kulit 2003 (Masterpiece of Humanity)

Keris 2006 (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)

Lansekap budaya (Culture Landscape)

Indonesia belum ada – dalam proses penominasian “The Cultural Landscape of Bali”

Satu lagi yang juga diusulkan namun masih dalam proses penilaian dan perbaikan adalah Tana Toraja.

Untuk dapat ditetapkan seagai warisan dunia diperlukan proses nominasi. Proses nominasi warisan dunia mengikuti alur yang cukup panjang. Alur nominasi warisan budaya dunia di Indonesia dimulai dengan adanya Studi Kelayakan. Tahap selanjutnya adalah penyusunan naskah nominasi dan Manajemen Plan. Setelah disosialisasikan dilakukan pengusulan naskah nominasi dan disosialisasikan kembali. Naskah nominasi diadakan revisi untuk selanjutnya dilakukan penetapan nominasi. Langkah selanjutnya adalah implementasi Manajeme Plan. Kemudian diadakan monitoring dan evaluasi

Dari tinggalan budaya menuju warisan budaya

Tinggalan budaya merupakan keseluruhan segala jenis tinggalan, baik benda maupun tak benda. Semua dapat dikatakan sebagai tingalan budaya, meskipun belum ditetapkan. Tinggalan budaya yang telah ditetapkan sesuai perundang-undangan selanjutnya disebut sebagai cagar budaya. Cagar budaya merupakan kekayaan yang dapat dimanfaatkan baik untuk pariwisata, pendidikan, penelitian, dan lain-lain dalam kerangka pelestarian. Cagar budaya yang telah dimanfaatkan distilahkan sebagai sumberdaya budaya. Sumberdaya budaya yang telah menjadi milik kolektif selanjutnya disebut sebagai warisan budaya.

Pelestarian warisan budaya sangat penting karena merupakan Hakekat Data Masa Lalu, dimana warisan budaya tersebut berada dalam Keterbatasan Secara Kuantitas Dan Kualitas. Tinggalan budaya yang dibuat manusia masa lalu tidak seluruhnya yang sampai ke tangan kita karena dipengaruhi oleh beberapa faktor . Tinggalan budaya yang sampai ke tangan kita Cuma sedikit yang dimengerti dan dimanfaatkan

Peraturan yang Terkait Dengan Pengelolaan Warisan Dunia

Pelestarian memerlukan peraturan perundangan, beberapa peraturan yang terkait yaitu :

Ratifikasi Konvensi Internasional “Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage 1972” oleh pemerintah RI pada 6 Juli 1989

Konvensi Internasional: Convention of the save guarding the intangible culture of heritage 2003 (belum dilakukan ratifikasi oleh pemerintah RI, konvensi ini efektif mulai 20 April 2006) (saat ini dalam proses diratifikasi sudah selesai)

Undang-undang No. 5/1992 BCB

Undang-undang no. 24/1992 tentang Tata Ruang

Undang-undang No. 32/2004 tentang OTODA

Prinsip Pengelolaan Warisan Budaya Dunia

Prinsip pengelolaan warisan dunia yang berupa bendawi, tak bendawi, dan lansekap budaya harus meliputi beberapa prinsip sebagai berikut :

Berkelanjutan

Dapat dimanfaatkan dan dikembangkan

Sesuai Daya Dukung Ekologis

Untuk Generasi Berikutnya

Bernilai Ekonomis

Dan Berpihak pada Etika dan Sosial Masyarakat

Untuk mewujudkan pengelolaan warisan dunia yang baik diperlukan paradigma pengelolaan yang sesuai dengan tuntutan kekinian. Sehingga diperlukan perubahan paradigma lama ke paradigma baru.

Perubahan Paradigma Dalam Pengelolaan Warisan Budaya tersebut dapat dilihat pada tabel berikut (UNESCO, 2004) :

Perubahan Paradigma
Paradigma Lama Paradigma baru
monumen, raja, politik tempat dan ruang manusia biasa
kosong, situs material masyarakat berkelanjutan
manajemen administrasi pusat pengelolaan bersama
penggunaan elit penggunaan populer

Cakupan Warisan Budaya Dunia tidak hanya situs tinggalan budaya saja, namun meliputi beberapa cakupan lain sebagai berikut :

  1. Lansekap Budaya (Culture landscape)
  2. Situs Arkeologi (Archaeological Sites)
  3. Situs Bawah Air (Underwater Sites) (menurut data kita memiliki lebih dari 400 situs BCB bawah air)
  4. Situs Kota Bersejarah dan Kelompok Warisan Budaya (Historic Urban Sites and Heritage Groups
  5. Monumen, Bangunan, dan Struktur (Monuments, Buildings, and Structures)

Hal ini menuntut kita untuk juga mengembangkan pengelolaan bidang-bidang cakupan tersebut.

Upaya Pengelolaan Warisan Budaya Dunia

Upaya pengelolaan warisan budaya dunia meliputi hal-hal sebagai berikut :

· Pelestarian: perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan

· Pemberdayaan masyarakat—keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan

· Public awarness — sosialisasi

· Capacity building — efektifitas kelembagaan

· Coordinating Board — koordinasi antar stake holders

· Penegakan hukum dan revisi terhadap UU No 5/1992 tentang BCB dan Penyusunan UU Kebudayaan

Hal-hal yang Diperlukan dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia adalah :

· Monitoring

· Penilaian

· Mitigasi dan Penanganan Bencana

· Pelestarian: Perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan

· Pengendalian

· Penelitian dan Pengembangan

· Penyusunan Data Base dan Informasi

· Penyusunan standar prosedur dan pedoman dalam pengelolaan serta penanggulangan dampak terhadap Warisan Budaya Dunia

Masalah Pengelolaan Warisan Budaya Dunia

Pengelolaan warisan budaya dunia di Indonesia masih memiliki bererapa masalah. Masalah-masalah tersebut harus dipecahkan untuk pengelolaan yang lebih baiuk di masa mendatang. Beberapa masalah yang masih ditemui dalam pengelolaan warisan budaya dunia di Indonesia adalah sebagai berikut :

Kewenangan

Lemahnya peraturan dan sanksi hukum (regulation and law inforcement)

Kesadaran masyarakat (cultural and social carrying capacity

Kelembagaan

Tekanan pembangunan (enviromental carrying capacity — hazard)

Managemen

Pemecahan berbagai masalah diatas memerlukan proses yang panjang karena menyangkut berbagai kepentingan terkait.

disampaikan oleh Soeroso MP,

Direktorat Peninggalan Purbakala, Direktorat Jenderal Sejarah Purbakala

Bintek Warisan Dunia, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.

Satu Tanggapan

  1. saya perlu matan UU no 5 1992

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: